IN MEMORIAM MY BEST FRIEND TITIN,,,,,,,, 1 Agustus 1983 - 18 Januari 2012
Kutulis kisah persahabatanku ini dg tujuan agar aku selalu mengingatnya:
Titin binti Didi Ajum, she is my best friend i ever had in this world.
Kami sekolah di SMK yang sama lulus tahun 2001, hanya saja aku baru kenal 20 Juli 2003 saat aku diutus murrobi ku untuk mengikuti apel siaga yang diadakan salah satu partai. nah ternyata rumah kami dekat hanya beda 2 gang.
Sejak itu pertemanan kami semakin erat, suka duka kami lalui bersama. Sempat agak jauh setelah dia menikah dan juga ketika aku sedang dekat dg suamiku. Dan ditengah pembicaraan orang-orang tentang aku, dia dengan perannya sebagai sahabatku berusaha membela dan menutupi cerita tentang aku. Kami selalu berbagi dalam hal apapun, curhat tentang percintaan kami, rumah tangga, sampai hal ekonomi, dimana saat aku atau dia tidak ada uang kita saling bantu.
Dia mengerti aku begitupun sebaliknya.
Apa-apa kita selalu sama, bahkan pakai baju pun padahal ga janjian warna tapi bisa sama, ngobrol bisa berjam-jam, ada aja hal yang dibicarakan.
Titin adalah sosok prefectionist, pemimpin, she can handle everything, humoris, meskipun ada beberapa kekurangannya juga. Suka menolong orang lain, menyantuni anak yatim.
Sebelum dia sakit, sering kali dia mengunjungi rumahku, sekedar curhat, menghindari suaminya kl ada masalah. Sampai dia diserang penyakit kanker. Awalnya........................
Dia mengirim sms ke aku yang isinya bilang kalau dia sudah cek dan hamil, memang sudah beberapa bulan itu dia lepas KB karena suaminya ingin punya anak lagi, ini anak yang ke 3.
Ga lama dia merasakan ada benjolan kecil dibawah payudaranya, lama dia ga cerita sampai akhirnya dia cerita kalau itu adalah kelenjar getah bening dan harus di operasi. Kusarankan agar ikuti dokter aja, cuma dia bilang takut. Yang akhirnya aku tahu kenapa dia tidak mau operasi adalah karena tidak ada dukungan dari suaminya.
Sudah ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut , kemungkinan itu adalah tumor dan harus diangkat, tetapi lagi2 dia tidak mau dikarenakan ada janin dalam perutnya yang mengharuskan dia menggugurkan kalau mau operasi.
Sampai beberapa bulan dia sembunyikan payudaranya yang makin lama makin membesar. Tiap kali aku bertelpon dia ga cerita tentang sakitnya itu karena dia bilang minum temu putih yang bisa menghancurkan tumornya itu. Sampai akhirnya aku kerumahnya dan melihat dia dalam keadaan yang sakit. terbaring karena beratnya payudaranya. Dia hanya konsumsi sampton ekstrak buah manggis, yang katanya bisa menghancurkan tumornya.
Meskipun dengan keadaan seperti itu dia terlihat masih saja ikhlas dan menerima penyakitnya dengan sabar, dia bilang ini adalah penghapus dosa dari perbuatannya terhadap suaminya. Teriak kalau dia merasakan sakit. Sungguh berat bebannya, mengandung sekaligus menderita sakit tumornya itu.
Sampai usia kandungannya 7 bulan keluarga suaminya menyarankan untuk cesar dan operasi tumornya. Tetapi lagi-lagi tidak, aku selalu sarankan agar dia ke dokter, tapi dia takut macam-macam, biaya lah dsb. Dan dia selalu meyakinkan aku bahwa dia baik-baik aja dan akan segera sembuh. Dia juga bilang " jika sesuatu terburuk terjadi dengannya ini adalah pintu dia mendapatkan surga dari ketaatannya kepada suami" terdengar bodoh tapi itulah. Dalam hati aku gregetan tp aku ga bisa maksa dengan keputusannya, hanya bisa menghargai dan berdoa agar dia diberikan kesembuhan.
Diusia 8 bulan 3 hari kandungan, dia mau kedokter di pagi hari, menunggu suaminya absen kerja, tapi suaminya ga pulang-pulang sampai dia kesal dan bikin dia pingsan, saat itu aku telpon untuk menanyakan gmn, ternyata yang angkat tetangganya dan bilang kalau Titin ga sadar, paniknya aku dan ga bisa konsen kerja. Pulang kerja aku langsung kerumahnya, mendapati dia masih belum sadar banget, aku dibilang Yanih adiknya, aku menangis melihat kondisinya yang sudah begitu.
Setelah magrib dan kami semua sholat kami mau ke RS Persahabatan, dia sudah sadar secara otaknya. Kami pergi dengan taksi, aku dan dia duduk di kursi belakang, dia tiduran dengan kepala ku pangku.
Sesampainya disana kami menuju dokter kebidanan, karena dia merasakan kontraksi. Disana dia agak dimarahi dokter karena datang sudah dalam keadaan payudara membesar sementara tidak ada keterangan medis ttg penyakitnya.
Aku menunggu diruang tunggu, ga lama dia keluar lagi bahwa harus dioperasi segera anak dan payudaranya. Katanya kepada suaminya, "ini bisa membahayakan nyawa ibunya".
Aku pulang dan agak lega karena dia sudah ditangani oleh orang yang tepat, yaitu dokter.
Ternyata malam itu juga dia pulang lagi dan keesokan harinya baru dicesar. Besoknya aku kerumah sakit. Sudah lahir Perempuan dengan berat 2,65kg tinggi 50cm. Selesai masalah yang satu itu. Tapi dia merasakan sakit yang luar bisa, sampai akhirnya dokter memberikan antibiotik dan bisa menghilangkan sakitnya.
Memaksa pulang, dirumah dia merasa baikan dan bahkan bisa sedikit bersih-bersih rumah. (to be continued)
Kutulis kisah persahabatanku ini dg tujuan agar aku selalu mengingatnya:
Titin binti Didi Ajum, she is my best friend i ever had in this world.
Kami sekolah di SMK yang sama lulus tahun 2001, hanya saja aku baru kenal 20 Juli 2003 saat aku diutus murrobi ku untuk mengikuti apel siaga yang diadakan salah satu partai. nah ternyata rumah kami dekat hanya beda 2 gang.
Sejak itu pertemanan kami semakin erat, suka duka kami lalui bersama. Sempat agak jauh setelah dia menikah dan juga ketika aku sedang dekat dg suamiku. Dan ditengah pembicaraan orang-orang tentang aku, dia dengan perannya sebagai sahabatku berusaha membela dan menutupi cerita tentang aku. Kami selalu berbagi dalam hal apapun, curhat tentang percintaan kami, rumah tangga, sampai hal ekonomi, dimana saat aku atau dia tidak ada uang kita saling bantu.
Dia mengerti aku begitupun sebaliknya.
Apa-apa kita selalu sama, bahkan pakai baju pun padahal ga janjian warna tapi bisa sama, ngobrol bisa berjam-jam, ada aja hal yang dibicarakan.
Titin adalah sosok prefectionist, pemimpin, she can handle everything, humoris, meskipun ada beberapa kekurangannya juga. Suka menolong orang lain, menyantuni anak yatim.
Sebelum dia sakit, sering kali dia mengunjungi rumahku, sekedar curhat, menghindari suaminya kl ada masalah. Sampai dia diserang penyakit kanker. Awalnya........................
Dia mengirim sms ke aku yang isinya bilang kalau dia sudah cek dan hamil, memang sudah beberapa bulan itu dia lepas KB karena suaminya ingin punya anak lagi, ini anak yang ke 3.
Ga lama dia merasakan ada benjolan kecil dibawah payudaranya, lama dia ga cerita sampai akhirnya dia cerita kalau itu adalah kelenjar getah bening dan harus di operasi. Kusarankan agar ikuti dokter aja, cuma dia bilang takut. Yang akhirnya aku tahu kenapa dia tidak mau operasi adalah karena tidak ada dukungan dari suaminya.
Sudah ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut , kemungkinan itu adalah tumor dan harus diangkat, tetapi lagi2 dia tidak mau dikarenakan ada janin dalam perutnya yang mengharuskan dia menggugurkan kalau mau operasi.
Sampai beberapa bulan dia sembunyikan payudaranya yang makin lama makin membesar. Tiap kali aku bertelpon dia ga cerita tentang sakitnya itu karena dia bilang minum temu putih yang bisa menghancurkan tumornya itu. Sampai akhirnya aku kerumahnya dan melihat dia dalam keadaan yang sakit. terbaring karena beratnya payudaranya. Dia hanya konsumsi sampton ekstrak buah manggis, yang katanya bisa menghancurkan tumornya.
Meskipun dengan keadaan seperti itu dia terlihat masih saja ikhlas dan menerima penyakitnya dengan sabar, dia bilang ini adalah penghapus dosa dari perbuatannya terhadap suaminya. Teriak kalau dia merasakan sakit. Sungguh berat bebannya, mengandung sekaligus menderita sakit tumornya itu.
Sampai usia kandungannya 7 bulan keluarga suaminya menyarankan untuk cesar dan operasi tumornya. Tetapi lagi-lagi tidak, aku selalu sarankan agar dia ke dokter, tapi dia takut macam-macam, biaya lah dsb. Dan dia selalu meyakinkan aku bahwa dia baik-baik aja dan akan segera sembuh. Dia juga bilang " jika sesuatu terburuk terjadi dengannya ini adalah pintu dia mendapatkan surga dari ketaatannya kepada suami" terdengar bodoh tapi itulah. Dalam hati aku gregetan tp aku ga bisa maksa dengan keputusannya, hanya bisa menghargai dan berdoa agar dia diberikan kesembuhan.
Diusia 8 bulan 3 hari kandungan, dia mau kedokter di pagi hari, menunggu suaminya absen kerja, tapi suaminya ga pulang-pulang sampai dia kesal dan bikin dia pingsan, saat itu aku telpon untuk menanyakan gmn, ternyata yang angkat tetangganya dan bilang kalau Titin ga sadar, paniknya aku dan ga bisa konsen kerja. Pulang kerja aku langsung kerumahnya, mendapati dia masih belum sadar banget, aku dibilang Yanih adiknya, aku menangis melihat kondisinya yang sudah begitu.
Setelah magrib dan kami semua sholat kami mau ke RS Persahabatan, dia sudah sadar secara otaknya. Kami pergi dengan taksi, aku dan dia duduk di kursi belakang, dia tiduran dengan kepala ku pangku.
Sesampainya disana kami menuju dokter kebidanan, karena dia merasakan kontraksi. Disana dia agak dimarahi dokter karena datang sudah dalam keadaan payudara membesar sementara tidak ada keterangan medis ttg penyakitnya.
Aku menunggu diruang tunggu, ga lama dia keluar lagi bahwa harus dioperasi segera anak dan payudaranya. Katanya kepada suaminya, "ini bisa membahayakan nyawa ibunya".
Aku pulang dan agak lega karena dia sudah ditangani oleh orang yang tepat, yaitu dokter.
Ternyata malam itu juga dia pulang lagi dan keesokan harinya baru dicesar. Besoknya aku kerumah sakit. Sudah lahir Perempuan dengan berat 2,65kg tinggi 50cm. Selesai masalah yang satu itu. Tapi dia merasakan sakit yang luar bisa, sampai akhirnya dokter memberikan antibiotik dan bisa menghilangkan sakitnya.
Memaksa pulang, dirumah dia merasa baikan dan bahkan bisa sedikit bersih-bersih rumah. (to be continued)